Jogja’s trip : Bukit pengilon, bukit cermin milik jawa

Waktunya keluar dari garis aman kalian, waktunya kalian harus berdiri, melihat dunia!, lawan dirimu sendiri, meski kau harus pergi sendiri, kau memang harus lelah terlebih dahulu tapi itu terbayarkan oleh indahnya bukit pengilon, bukit gagah di jajaran pantai siung

Tas sudah siap, tenda juga sudah siap, senter telah kupegang, berarti seluruh peralatanku untuk camping di bukit pengilon juga sudah siap, hari ini aku akan tracking dari pantai siung ke bukit pengilon, tampak kekhawatiran keluar  dari wajah keibuan istri mbah ido ya.. dia khawatir karena harus melepaskan anak berumur 15 tahun, sendirian melewati jalan perbukitan pantai selatan saat malam hari yang terkenal curam  itu, apalagi anak ini jauh dari pelosok barat sana,betul-betul kekhawatiran yang sangat beralasan, dia terus berlalu lalang di hadapanku membawa sebungkus nasi , mengisinya dengan lauk, membungkusnya dan memasukkannya ke dalam plastik dan ditemani dengan sebotol air mineral, khusus juga untuk hari itu dia memberikan makanan gratis ke pelanggannya. Sendangkan mbah ido duduk di halaman depan melihat sayutan ombak malam pantai siung sambil membakar rokok cerutu buatannya sendiri, dia hanya memberikanku secarik kertas yang dia sebut peta

Aku pun pamit dengan mbah ido dan sekeluarga, warungnya tempat aku kemaren menghabiskan waktu selama di pantai siung seharian, seperi yang kuceritakan sebelumnya kalau kita bisa ke bukit pengilon melalui pantai siung melewati perbukitan di sebelah kirinya, batu batu purba yang tersusun rapi itu yang nantinya akan kulewati. Perjalanan naik pun dimulai, dimulai dengan menyusuri tangga- tangga buatan warga , kakiku terasa masih keram sisa dari panjat tebing tadi sore, sekali kali aku duduk sebentar untuk meringankan kaki yang sudah tidak bersahabat ini, belum seberapa naik aku bertemu dengan suatu pos yang menarik retribusi meski ini bukan retribusi ke bukit pengilon tetapi tetap aku bayar dikarenakan harganya yang tidak terlalu mahal, dan ini juga adalah salah satu tanda kearifan warga lokal, yaitu membuat pos retribusi di setiap tempat wisata hehehe bercandaūüėÄ.

20170205094904_IMG_0790
Pantai siung dari ketinggian

Perjanan masih berlanjut setelah selesai menyusuri tangga, aku pun berjalan di jalanan yang medannya cukup datar dan tentunya lebih bersahabat terhadap kakiku yang hampir putus ini, aku beristirahat sebentar di suatu bukit melihat lansung pantai selatan ditemani dengan cahaya bulan purnama, banyak orang mendirikan tenda di bukit ini, mungkin karena jaraknya lebih dekat dengan pantai siung dan juga sudah mendapatkan view yang bagus dari atas ini, tapi aku tidak boleh terus terbuai dengan keindahan bukit ini karena tujuanku ialah bukit cermin milik jawa, bukit pengilon.

20171229_063457_richtonehdr.jpg
Jalan menuju bukit pengilon

Aku terus melewati jalanan datar ini, kanan kiri terlihat sawah milik warga, diantara sawah-sawah itu terlihat setitik cahaya, terlihat dari kejauhan pos retribusi untuk kedua kalinya, pos itu hanya disinari oleh lampion kecil, pos itu terlihat seperti gubuk, di dalam gubuk itu terlihat 3 orang yang sudah sepuh, wajah mereka terlihat samar-samar karena cahaya lampion, terlihat guratan kuat tersirat di wajah mereka, guratan yang menandakan mereka telah melewati cobaan cobaan hebat dalam hidup ini, mereka berasal dari karang taruna desa setempat, aku pun membayar uang retribusi dengan pecahan yang cukup besar karena tidak ada kembalian salah satu dari mereka mengambil uang ke rumah  yang kebetulan dekat dengan gubuk itu, jadilah aku menunggu di dalam gubuk itu, baru saja aku duduk, salah satu dari mereka menawariku kacang godhok dan secangkir teh, ini adalah salah satu sifat yang paling kusuka terhadap orang jawa mereka tidak acuh terhadap orang yang baru dikenal dan langsung terasa dekat. Setelah mendapatkan kembalian, aku melanjutkan lagi perjalanan yang baru setengah jalan, kali ini jalanan mulai menurun, terdengar gemericik air dari kejauhan, makin aku turun suara itu makin mengelegar, suara yang membuat pendengarnya dapat menyatu dengan air itu, setelah melewati sungai kecil, terlihat jalan setapak yang lumayan sempit dan langsung menghadap jurang, jalan itu hanya dibatasi oleh bambu, aku cukup berhati-hati saat disana selain jalan yang gelap, jalan ini juga licin, meski berbahaya tapi pemandangan dari atas ini tidak bisa terbayarkan oleh apapun, ombak ombak yang menerjang tebing bercampur dengan kegagahan air terjun banyu tibo, air terjun yang langsung berbatasan dengan laut.

20171229_063655.jpg
Air terjun banyu tibo saat perjalanan pulang dari bukit pengilon di pagi hari

Dekat dari banyu tibo terlihat ¬†seberkas cahaya di ketinggian, ya…bukit pengilon sudah dekat, makin kupegang erat barang bawaanku, kutancapkan kaki kaki ini melewati jalanan terjal, sedikit lagi aku akan sampai, hati ini berdebar menunggu keindahan bukit bukit pantai selatan. Akhirnya aku bertemu dengan suatu pos untuk ketiga kalinya, senyuman senyuman yang keluar dari wajah mereka menandakan bahwa aku telah sampai di bukit pengilon, rasanya seluruh bawaan ini ingin kulepas hanya butuh tiga langkah lagi untukku melihatnya. Saat aku sudah sampai di atas, badanku langsung terduduk, angin angin laut menerpa wajahku, antara lelah dan keindahan ini bercampur menjadi satu, kadang mungkin inilah alasan bagi beberapa traveller rela sakit-sakitan dan keluar uang banyak untuk merasakan sensasi ini, sensasi yang sampai sekarang masih kubelum tahu.

20171229_053325
Samudra yang terlihat dari atas pengilon

Tapi petualangan ku di bukit pengilon tidak sampai sini saja, aku harus menginap disini 1 malam apalagi tengah malam akan ada prekdisi hujan deras sepanjang pantai gunung kidul, hal yang paling tidak ingin kubayangkan jika tenda harus bocor apalagi terbawa angin kencang, mulailah ku berdirikan tenda bersama dengan salah satu penjaga disana, selama mata memandang hanya 3 tenda saja yang berdiri di hamparan bukit pengilon, anehnya aku datang kesini saat musim liburan. Kebetulan karena aku belum shalat isya saat di bawah tadi, maka aku memutuskan shalat di atas bukit ini, dengan bantuan kompas digital dan sehelai koran mulailah aku merasakan khusu’nya shalat dari atas bukit pengilon, desiran ombak, dan angin sepoi sepoi ¬†membuat shalat ini semakin tenang, setelah shalat, aku memakan bekal dari istri mbah ido dengan hanya disinari oleh cahaya rembulan makin membuat nasi ini terasa nikmat. Ini mungkin adalah cara yang paling bagus untuk kalian yang ingin menyepi atau menjauh dari kesemrautan kota, sebelum aku mengistirahatkan badan ini datanglah 2 orang menghampiriku, dengan memakai jaket tebal dan berselimutkan sarung bersama mereka juga terdapat buku tebal, mereka mengaku berasal dari pengurus bukit pengilon dan untuk ketiga kalinya mereka memintakanku uang untuk tarif camping di bukit pengilon dan yang kali ini cukup mahal, di dalam hati ku berkata sabar ton ini juga salah satu kearifan lokal toh mereka juga kan yang membersihkan dan menjaga bukit ini tetap bersih. Setelah 2 orang itu pergi aku pun dapat tidur nyenyak kembali. Tapi kenyenyakan itu hanya sementara seluruh prekdisi itu benar, tendaku mulai bocor, air air menembus terpalnya, makin lama angin makin kencang, terpaksalah aku mengungsi ke gubuk dekat situ, ¬†ternyata bukan aku saja yang harus mengungsi beberapa orang yang mendirikan tenda juga terdapat disana, mereka senasib denganku, sendangkan para penjaga sepertinya mereka sudah terbiasa dengan semua ini mereka terlihat lelap sekali tanpa mementingkan hujan deras sekalipun, meski badan basah kuyup tapi mata juga tidak bisa dilawan sambil kedinginan dan memeluk badan sendiri aku pun terlelap di bawah atap gubuk ini

20171229_055309_Richtone(HDR)
Suasana pengilon saat sunset

Cahaya fajar membangunkanku, tak lupa sebelumnya ku shalat subuh, aku duduk di sisi tebing menunggu cahaya ilahi keluar dari persembunyiannya, sedikit sedikit mulailah keluar seberkas cahaya dari balik tebing pantai wedi ombo, rasanya seluruh keindahan ini mengobati penderitaanku tadi malam, tak kuat mataku menerima semua ini. Rasanya terus aku ingin tetap disini tapi waktu terus berjalan, kita harus terus melewati hidup ini dengan cara masing-masing, hidupku tak kusisakan disini saja masih banyak impian yang terus kukejar tapi aku selalu berdoa untuk bisa kembali sekali lagi ke tempat ini.

Santrionthetrip.wordpress.com

Rincian retribusi :

  1. TPR pantai siung : 5.000 / orang
  2. Parkir pantai siung : 3.000/ motor dan 5.000/ mobil
  3. TPR bukit pertama : 2.000/ orang
  4. TPR bukit pengilon : 3.000/ orang
  5. Tarif camping : 20.000/ tenda

 

Tips bagi kalian yang ingin ke bukit pengilon :

  1. Ada 2 jalur jika ingin ke bukit pengilon pertama melalui pantai siung dan kedua melalui desa balong, tapi saya sarankan trakcking saja melalui pantai siung selain kalian mendapat view yang bagus, jalan melalui desa balong juga masih jelek dan tidak cocok untuk motor matic
  2. Siapkan uang recehan
  3. Siapkan sendal atau sepatu khusus tracking karena jalan masih licin dan menanjak
  4. Bagi kalian yang memiliki waktu luang cobalah camping di bukit pengilon
  5. Dan terakhir jangan datang saat musim hujan

 

 

 

Jogja’s trip : Pantai siung…….melihat laut dari sisi yang berbeda

Jika  lihat laut dari bawah itu mah biasa tapi kalo lihat laut dari sisi tebing itu baru luar biasa

Bulan baru saja muncul, kota jogja pun ¬†terasa masih hidup malah ini adalah waktu dimana puncak kerameannya berada, banyak motor dan mobil berlalu lalang, restoran restoran di pinggir jalan itu pun semakin penuh, di persimpangan jalan penuh dengan kendaraan yang sedang menunggu lampu hijau, lampu yang berkelap kelip makin membuat malam itu semakin indah betul betul suasana khas kota jogja, tapi… kami harus segera meninggalkan kota ini sebelum malam larut, bau khas knalpot menusuk ruang ruang di hidungku, ya.. mas bogel sedang memanaskan motor jupiter tuannya, motor yang telah dia beli lebih dari 3 tahun lalu dari para pengadah itu, belum pernah sama sekali ia perbaiki, dialah orang yang nantinya akan menemaniku untuk melihat pantai siung dari sisi yang berbeda, melihat laut melalui panjat tebing.

IMG-20171229-WA0012
Tebing di pantai siung

Pejalanan pun dimulai, jarak 72 km pun harus kami lahap malam ini, dari jogja kami mengarah ke arah wonosari belokan belokan khas gunung kidul pun kami lewati setelah sampai di kota wonosari kami sepakat untuk beristirahat sebentar, merengangkan kaki dan tangan yang sudah takluk dengan angin malam di sepanjang jalan gunung kidul, kami beristirahat sebentar di angkringan langganannya mas bogel, angkringan itu hanya disinari oleh satu lampion yang juga sudah mulai redup, kami disuguhi teh hangat dan beberapa gorengan lengkap dengan sego (nasi) kucing, malam itu makin terasa hangat dengan obrolan obrolan khas angkringan, terkadang aku tertawa saat seorang dari mereka menceritakan banci dekat kampung nya tapi terkadang suasana menjadi serius saat mereka mulai berbicara politik, (jujur saya sebenarnya tidak bisa berbahasa jawa tapi saat itu saya bisa sedikit memahami apa yang mereka bicarakan dan ikut tertawa bersama mereka) . Setelah badan mulai segar, kami mulai melanjutkan perjalanan karena ternyata masih setengah perjalan lagi jika ke pantai siung dari wonosari, betul betul  3 jam perjalanan yang melelahkan.

Mentari mulai menyinari pantai dan batu batuan di pantai siung apalagi pantai ini sangat unik karena ¬†dikelilingi oleh bukit dengan 3 jenis batu yang berbeda, di sebelah kanan terdapat batu karang dan disana juga spot panjat tebing berada, kemudian di atas terdapat batu kapur banyak rumah warga berdiri di sana dan disebelah kiri adalah batu -batuan purba dan ¬†dari situ kita bisa trackking jika ingin ke air terjun banyu tibo dan bukit pengilon. Oh yaa…..sebelumnya kami telah sampai di siung saat tengah malam dan kami membuat camp di pesisir pantai, Karena matahari juga sudah muncul berarti ini adalah waktunya untuk menaklukan tebing di ¬†pantai siung, aku pun memakai pengaman yang wajib jika ingin memanjat seperti topi, hardness, carabinner, dan sepatu khusus panjat tebing tentunya, mas irwan (pemandu kedua saya) mulai naik untuk memasang pengaman di dinding tebing dan mas bogel membantu mengamankan dari bawah dengan tali, setelah semua pengaman terpasang waktunya saya beraksi.

IMG-20171229-WA0018          Ternyata memanjat tebing itu tidak semudah yang saya pikirkan banyak teknik teknik yang saya pelajari mulai dari kaki dan tangan harus seimbang,  bertumpu pada kaki dan tidak bertumpu pada tangan, selalu menghadap ke atas untuk mencari pengangan, jangan pernah lepaskan kaki dari tebing, sampai keamanan saat memanjat. Ohlaraga ini juga harus menyatukan antara otot dan otak, saya harus jatuh naik untuk bisa sampai ke puncak, meski saya sering jatuh, rasa penasaranlah yang membuat saya tidak menyerah, saya penasaran bagaimana banyak orang bisa sampai naik ke atas, bagaimana mereka bisa tepat mendapat penganggan di tebing dan itu yang terus saya pelajari dan membuat saya tidak cepat menyerah, saya harus jatuh lebih dari 15 kali, selama 6 jam hanya 3 tebing yang berhasil saya taklukan, sekedar info di pantai siung terdapat 42 jalur panjatan dan mungkin masih lebih yang terdiri dari beberapa tingkat kesusahan seperti pemula, medium, pro dan expert sendangkan jalur panjatan yang  paling terkenal adalah tebing kuda laut, setelah saya berhasil mencapai puncak semua kelelahan itu terbayarkan oleh suasana pantai siung dari atas, desiran ombak, angin sepoi sepoi khas pantai selatan, lautan karang dan tentunya terpuaskan.

Matahari pun mulai bersembunyi di balik karang karang pantai selatan jawa, warna keemasannya seakan membuat kami luluh dengan keindahannya, ini juga menandakan bahwa aku harus segera turun dari tebing tebing karang pantai siung, hati ini masih menyimpan banyak akan kepanasaran tapi badan  berkata lain jari-jari yang telah kebas, otot tangan yang keram, dan luka-luka di sekujur betisku membuatku hari ini harus mengakui kemenangan tebing tebing pantai siung. Aku, mas bogel, dan mas irwan pun kembali ke camp tapi aku telah bertekad suatu hari nanti untuk menaklukan semua tebing ini.

IMG_20171231_180230_705

Tips bagi kalian yang ingin ke pantai siung:

  1. Jika kalian ingin ke pantai siung kalian bisa menyewa motor biasanya 24 jam itu 50.000 sampai 70.000 tapi jika kalian tidak bisa naik motor kalian bisa naik bus dari giwangan ke wonosari dan dari wonosari bisa makai ojek ke pantai siung biasanya per trip 70.000 tapi bisa ditawar lagi kok
  2. Lebih baik jalan malam karena jalan lebih sepi tapi jika ingin jalan malam lebih baik rombongan atau bersama orang yang sudah tahu jalan
  3. Datang saat tidak musim hujan karena jika ingin memanjat akan lebih susah karena licin dan bisa saja tangan kita tersobek
  4. Jika kalian ingin ikut panjat tebing kalian bisa langsung datang ke pantai siung atau hubungi nomor dibawah ini:  082221163084 ( mas bogel ) kalo  harganya mulai dari 250.000/ pack ( mungkin masih ada yang lebih murah dari ini, bisa kalian cari sendiri kok)
  5. Jika kalian ingin menginap kalian bisa bawa camp dan ngecamp di pesisir pantai tapi saya sarankan jangan datang saat musim hujan karena intesitas curah hujan akan tinggi dan anginnya lebih kencang tapi jika kalian yang tidak ingin ngecamp kalian juga bisa tidur sementara di warung warung dekat pantai tenang buka 24 jam dan warga nya baik baik kok asalkan kalian juga sopan hehehe

 

Jangan takut jadi santri!

Ini adalah blog pertama saya, seorang yang ingin menulis untuk merubah,berbagi dan melihat dunia

       Kadang beberapa orang berpikir bahwa menjadi santri adalah momok yang sangat menakutkan sehingga mereka takut untuk belajar di pesantren mereka akan berpikir bahwa mereka akan terikat oleh banyak peraturan, selalu disiplin setiap saat, bangun pagi, hukuman setiap saat dan masih banyak lagi. Mungkin dulu aku adalah salah satu yang berpikiran sama seperti mereka, aku selalu menolak jika membayangkan bagaimana hidup di pesantren apalagi membicarakannya dan masuk ke dalamnya, ini adalah hal yang tak pernah ingin kubayangkan jika aku harus masuk ke penjara suci (sebutan pesantren oleh beberapa santri).

¬† ¬† ¬† ¬† ¬†Tapi sepertinya takdir berkata lain aku yang tadinya bercita-cita setelah lulus ingin masuk smp dan sma umum kemudian lanjut ke perguruan tinggi favorit, memakai seragam putih biru, naik motor setiap ke sekolah atau belajar biologi, fisika dan kimia.semua impian itu kandas hanya dalam beberapa menit saat perjalananku ke bandung kadang ku berpikir inilah titik balik dalam hidupku,perputaran 180 derajat yang membawaku ke dunia yang baru, hari itu teman ayahku membawaku ke sebuah pesantren di bandung ,ayahku sangat tertarik dengan pesantren itu dia melihat banyak santri yang berlalu lalang membawa buku, wajah mereka memancarkan semangat muda yang membara bara, kadang kupikir mereka seperti habis meminum obat kuat, yang mereka beli di toko arab dekat pondok mereka, betul betul ekspresi yang tidak pernah kulupakan sepanjang hidupku, dan nanti itu juga lah ekperesi yang kupakai selama 6 tahun berikutnya, karena ayahku terkagum dengan itu dia pun menawariku untuk masuk pesantren, mungkin saat itu isi pikiran ayahku hanya terngiang-ngiang dengan satu pertanyaan “kenapa bisa sesemangat itu mereka, apa alasan yang bisa membuat mereka membawa buku sebanyak itu dan kenapa tidak satu atau dua orang yang melakukan itu tapi semuanya”, ¬†tetapi entah apa yang kupikirkan aku pun menyetujuinya ya…. aku menyetujuinya, aku pun langsung melihat senyum sumringah dari ayahku saat itu juga, senyuman yang sudah lama tak pernah kulihat, kemudian aku pun ¬†mendaftar, tes dan ternyata lulus, tadinya aku yang hanya menemani teman ayahku untuk menjenguk anaknya malah berhasil membuatku merasakan 6 tahun yang penuh dengan banyak warna warni dan masuk ke dunia yang penuh dengan tekad api, sekali lagi…… takdir berkata lain saat itu.

Mulai saat itu hidupku berubah aku merasakan hal hal yang tak pernah kupikirkan dalam hidupku, suka duka kulewati, antara dendam dan kasih sayang, antara perpecahan dan kesetiaan semuanya bercampur dalam hidupku, aku melihat hal hal yang tak pernah kulihat sebelumnya,aku pun sadar akan banyak hal, setiap hari petuah dan nasehat menyelimuti hatiku, banyak ide dan pemikiran hebat yang kuterima dan itu semua berasal dari para guru yang hebat pula, mereka terkadang lebih mementingkan santrinya dari pada keluarga mereka sendiri, setiap dari mereka membawa cita-cita dan misi yang ingin mereka tanam di setiap hati para ¬†murid mereka, tetapi terkadang pahitnya hukuman harus kurasakan dari push up, berdiri di teriknya matahari, hukuman botak sampai pukulan panas yang mengigit sampai ke dalam tulang, tapi semua itu terobati saat ku balik ke asrama bertemu dengan teman-teman yang siap menghangatkan suasana dengan candaan mereka dan obrolan obrolan ngalor ngidul dan kadang ditemani oleh makanan jika ada teman sekamar yang baru dapat paket , tapi tentu seluruh hukuman itu ialah hanya bukti kepedulian para guru terhadap santrinya dari lubuk hati terdalam, mereka ingin berkata “santri santri ku rasakanlah pahit dan kepedihan untuk saat ini saja tapi jangan sampai kau rasakan kepedihan ini saat di akhirat nanti” mungkin itulah yang ingin mereka sampaikan saat itu.

Banyak warna warni kehidupan yang kurasakan saat itu,  kadang ku berpikir jika ku tak pernah menerima tawaran ayahku saat itu ,entah apa yang kulakukan sekarang jika aku tidak pernah melawan rasa takutku mungkin aku tak akan pernah melewati pengalaman hebat yang tak akan pernah kulupakan sepanjang hidupku, jika saat itu aku tidak keluar dari zona nyamanku maka aku tidak akan pernah bertemu dengan orang orang yang hebat juga, maka mulai sekarang jangan takut jika engkau ingin menjadi seorang santri di manapun itu dan menjadi santri tidak harus di pesantren, selama engkau masih belajar agama islam baik kau tua ataupun muda engkau adalah seorang santri tetapi sekali kali rasakanlah nikmatnya pondok.

Bagiku sampai sekarang sistem pendidikan terbaik ialah pondok, disana kau bisa langsung berhadapan dengan para asatidz mu, kau bisa bertanya langsung, kau bisa mengadu langsung, kau bisa langsung berinteraksi dengan gurumu, disana kau bisa sedikit merasakan bagaimana berhadapan dengan orang-orang yang tentu sifatnya juga berbeda beda, disana kau bisa melatih mentalmu, pondasimu dan peganganmu dalam hidup ini. Jadi tidak pelajaran berupa materi saja yang kita bawa pulang tapi pelajaran bagaimana kita menyikapi hidup ini.

Bagi kalian secara khusus para santri bangkitlah kalian dari tempat duduk kalian, hilangkan kemalasan yang masih menyelimuti badan kalian, bawalah buku, buka dan baca sekarang, tegakkan ibadah mu kepada ALLAH, rapatkanlah barisan kalian, ingat hari ini ummat ini bersandar kepada kalian, musuh-musuh kalian sudah jelas siapa, mereka telah berada di depan kalian, mulai sekarang janganlah kalian duduk di pojokan tapi duduklah di paling terdepan seakan kita berkata bahwa kita telah siap.

Artikel ini kuperuntukan bagi mereka yang ingin masuk pesantren tetapi masih bimbang. Artikel itu kuperuntukkan bagi orang tua yang ingin mengajaknya anaknya bergabung dengan forum terbesar di indonesia yaitu santri

 

Buat situs web atau blog gratis di WordPress.com.

Atas ↑